Kawasan Konservasi
  • PRL DKP
  • 16 September 2022
  • 3216 x

  • DATA KAWASAN KONSERVASI SULAWESI TEGAH

    1. KKD Doboto : 60.042,72 : 1 PENETAPAN MKP : KEPMENKP NOMOR 50/KEPMEN-KP/2019 : Sulawesi Tengah : Donggala, Buol dan Toli-toli : WPP 716 (Terumbu karang, padang lamun, mangrove, penyu, ikan baronang, ikan ekor kuning, kerapu, hiu, udang merah)

    2. KKD Tomini : 128.689,86 : 1 PENETAPAN MKP : KEPMENKP NOMOR 51/KEPMEN-KP/2019 : Sulawesi Tengah : Parigi Moutong, Poso, Tojo Una-Una : WPP 715 (Terumbu karang, padang lamun, mangrove, penyu, ikan ekor kuning, ikan katamba, ikan butana, ikan bibir tebal, ikan lencam, ikan brajanata, ikan kuniran, ikan baronang, ikan kerapu, mba-mba, kima, bambu laut, sidat)

    3. KKD Morowali : 292.910,12 : 1 PENETAPAN MKP : KEPMENKP NOMOR 52/KEPMEN-KP/2019 : Sulawesi Tengah : Morowali, Morowali Utara : WPP 714 (Terumbu karang, padang lamun, mangrove, penyu, lumba-lumba, lemuru, tengiri, tongkol, ikan kembung, ikan cakalang, hiu paus, kima, bambu laut)

    4. KKD Banggai Dalaka : 856.649,13 : 1 PENETAPAN MKP : KEPMENKP NOMOR 53/KEPMEN-KP/2019 : Sulawesi Tengah : Banggai, Banggai Kepulauan, Banggai Laut : WPP 714 (Terumbu karang, padang lamun, mangrove, ikan ekor kuning, ikan kerapu, banggai cardinal fish, bambu laut, kima)

    INFO SINGKAT KAWASAN, INFO PELAKSANAAN, PIHAK YANG DILIBATKAN, DAN DOKUMEN PENDUKUNG

    1. Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Donggala, Buol, Tolitoli, dan Perairan Sekitarnya di Provinsi Sulawesi Tengah yang telah ditetapkan oleh Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 50/KEPMEN-KP/2019 tentang Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Donggala, Buol, Tolitoli, dan Perairan Sekitarnya di Provinsi Sulawesi Tengah dengan jenis Kawasan “Taman” dan luas sebesar 60.042,73 Ha. Pengelolaan Kawasan konservasi Doboto dilakukan dengan sistem zonasi yang terdiri dari zona inti, zona pemanfaatan terbatas, dan zona lainnya yaitu zona rehabilitasi. Penetapan Kawasan ini dilatarbelakangi dengan potensi kelautan dan perikanan besar yang perlu dilestarikan. Perlindungan sumberdaya kelautan dan perikanan di kawasan konservasi Doboto yang salah satunya merupakan target pengelolaan terdiri dari bebarapa keanekaragaman hayati laut yang terdiri dari Habitat penting wilayah pesisir, ekosistem padang lamun, ekosistem mangrove, sumberdaya ikan ekonomis penting yang salah satunya adalah ikan napoleon (Cheilinus undulatus), ikan kerapu, dan ikan kakap, biota priorotas konservasi yang ditemukan ada beberapa yakni teripang, kima, hiu (Blacktip shark), penyu, dan udang merah.

    Gambar. Peta KKP3K Doboto


    2. Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Parigi Moutong, Poso, Tojo Una-Una dan Peraiaran Sekitarnya di Provinsi Sulawesi Tengah yang telah ditetapkan oleh Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 51/KEPMEN-KP/2019 tentang Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Parigi Moutong, Poso, Tojo Una-Una, dan Perairan Sekitarnya di Provinsi Sulawesi Tengah jenis Kawasan “Taman” dan luas sebesar 128.670,99 Ha. Pengelolaan Kawasan konservasi Teluk Tomini dilakukan dengan sistem zonasi yang terdiri dari zona inti, zona pemanfaatan terbatas, dan zona lainnya. Penetapan Kawasan ini dilatarbelakangi dengan sumberdaya laut yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Sumber daya laut merupakan sektor penting dalam perekonomian di 4 (empat) kabupaten tersebut yang menopang kehidupan dari masyarakat pesisir di wilayah ini. Perairan Teluk Tomini merupakan area penting bagi spesies laut yang terancam punah seperti penyu, dugong, paus dan lumba-lumba serta memegang peranan penting dalam konektivitas ekologis perairan secara luas. Kabupaten tersebut sebagai tempat perlindungan bagi ikan-ikan ekonomis penting untuk memijah dan berkembang biak dengan baik, kondisi ekosistem terumbu karang yang sehat, dan menyediakan tempat perlindungan bagi sumberdaya ikan yang nantinya akan berdampak pada peningkatan sumberdaya ikan di wilayah sekitarnya yang merupakan areal penting penangkapan bagi masyarakat pesisir, sehingga dampak konservasi kawasan perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil akan mendukung kegiatan perikanan secara langsung, maupun berbagai pemanfaatan kawasan konservasi yang dikelola berdasarkan sistem zonasi untuk berbagai kepentingan seperti pariwisata bahari yang pada akhirnya mampu memperkuat ekonomi masyarakat pesisir di Kawasan Teluk Tomini.

    Gambar. Peta KKP3K Teluk Tomini


    3. Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Morowali, Morowali Utara, dan Perairan Sekitarnya di Provinsi Sulawesi Tengah yang telah ditetapkan oleh Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 52/KEPMEN-KP/2019 tentang Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Morowali, Morowali Utara, dan Perairan Sekitarnya di Provinsi Sulawesi Tengah jenis Kawasan “Taman” dan luas sebesar 292.908,15 Ha. Pengelolaan Kawasan konservasi Morowali dilakukan dengan sistem zonasi yang terdiri dari zona inti, zona pemanfaatan terbatas, dan zona lainnya yaitu zona rehabilitasi. Penetapan Kawasan ini dilatarbelakangi dengan potensi kelautan dan perikanan besar yang perlu dilestarikan. Perlindungan sumberdaya kelautan dan perikanan di kawasan konservasi Morowali yang salah satunya merupakan target pengelolaan terdiri dari bebarapa keanekaragaman hayati laut yang terdiri dari ekosistem terumbu karang, ekosistem padang lamun, ekosistem mangrove, sumberdaya ikan ekonomis penting yang salah yang terdiri dari ikan ikan demersal dan ikan pelagis, biota priorotas konservasi yang ditemukan yakni lumba-lumba, hiu paus (Whale shark), penyu, kima, dan bambu laut.

    Gambar. Peta KKP3K Morowali


    4. Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Banggai, Banggai Laut, Banggai Kepulauan, dan Perairan di Sekitarnya di Provinsi Sulawesi Tengah telah ditetapkan oleh Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 53/KEPMEN-KP/2019 tentang Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Banggai, Banggai Laut, Banggai Kepulauan dan Perairan Sekitarnya di Provinsi Sulawesi Tengah dengan jenis Kawasan “Taman” dan luas sebesar 869.959,94 Ha. Kawasan konservasi Banggai Dalaka memiliki total luas Kawasan. Pengelolaan Kawasan konservasi Banggai Dalaka dilakukan dengan sistem zonasi yang terdiri dari zonta inti, zona pemanfaatan terbatas, dan zona lainnya sesuai dengan peruntukan Kawasan. Penetapan Kawasan ini dilatarbelakangi dengan potensi kelautan dan perikanan besar yang perlu dilestarikan. Perairan Kabupaten Banggai, Kabupaten Banggai Kepulauan, dan Kabupaten Banggai Laut di Provinsi Sulawesi Tengah memiliki tiga komponen ekosistem pesisir tropis penting yaitu terumbu karang, padang lamun, dan mangrove. Selain memiliki komponen ekosistem pesisir utama yang mendukun sumber daya perikanan, kawasan Banggai Dalaka merupakan habitat bagi spesies endemik BCF yang dikenal memiliki nilai ekonomi akan tetapi terancam keberadaannya dihabitat alaminya. Selain BCF kawasan banggai dalaka juga merupakan habitat dan jalur beberapa biota dilindungi berdasarkan peraturan di Indonesia dan aturan lainnya seperti Napoleon, Penyu, dan Bambu laut.

    Gambar. Peta KKP3K Banggai


    PERMASALAHAN

    1. Isu dan permasalahan pengelolaan Kawasan Konservasi Pesisir dan PulauPulau Kecil DOBOTO adalah sebagai berikut : a) Terjadinya degradasi ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil akibat dari berbagai aktivitas manusia seperti alih fungsi lahan mangrove menjadi kawasan budidaya tambak, pembangunan infrastruktur dan aktivitas lainnya. Degradasi lahan manggrove yang merupakan salah satu ekosistem wilayah pesisir yang penting dalam mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan akan berdampak pada menurunnya produksi perikanan sebagai akibat hilangnya habitat alami bagi beberapa jenis biota yang menjadikan kawasan menggrove sebagai area nesting, nursery dan feeding ground. b) Ketergantungan yang tinggi terhadap sumberdaya laut oleh masyarakat di Kawasan DOBOTO telah menyebabkan eksploitasi besar-besaran yang menyebabkan kerusakan pada ekosistem pesisir (terumbu karang, mangrove dan padang lamun) terutama yang dekat dengan pusat pemukiman penduduk. Eksploitasi berlebih terutama pada beberapa jenis sumber daya seperti jenis ikan ekonomis yang berada di ekosistem terumbu karang mengakibatkan penurunan hasil tangkapan terutama dampak penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan, bom ikan dan pottasium sianida. c) Sebagai kawasan yang dianugrahi kekayaan sumberdaya perikanan yang cukup besar, salah satu isu penting terkait perlindungan jenis di Kawasan ini adalah pengambilan kima (Tridacnidae) yang terus menerus dilakukan baik untuk di konsumsi maupun di jual, menjadi tantangan bagi pengelola kawasan konservasi untuk mengatur dan mengurangi peningkatan penagmbilan jenis kima yang tidak terkontrol. d) Isu penting lainnya adalah beberapa area di KKP3K DOBOTO merupakan tempat nesting area bagi beberapa jenis penyu seperti Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata). Sebagai tempat jalur migrasi dan pesisirnya tempat bertelur penyu, penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir dan lingkungan disekitanya tetap terjaga dari aktivitas berlebihan dari manusia dan pencemaran.

    2. Dari hasil kajian rencana zonasi yang dilakukan pada tahun 2017 dan hasil pengamatan lapangan tahun 2018 oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah, beberapa permasalahan menunjukkan betapa pentingnya kawasan konservasi di KKP3K Teluk Tomini anatara lain : a) bahwa secara umum kondisi ekosistem perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil di dalam kawasan yang didominasi oleh ekosistem terumbu karang ini adalah berada dalam kondisi rusak, bahkan di beberapa titik pengamatan sudah termasuk dalam kategori rusak berat. Kerusakan ini terutama diakibatkan oleh aktivitas penangkapan ikan secara destructive oleh nelayan dengan menggunakan bahan dan alat yang tidak ramah lingkungan, seperti penggunaan bahan peledak dan racun potassium sianida yang sering dilakukan oleh nelayan perusak di sekitar perairan Pulau Ongka, Pulau Tangah, Pulau Tomini dan Pulau Simonggaling. Rusaknya ekosistem terumbu karang yang merupakan rumah bagi ikan-ikan ini berdampak buruk terhadap hasil tangkapan nelayan yang terus mengalami penurunan sehingga areal penangkapannya semakin jauh. Selain itu, kerusakan ekosistem terumbu karang ini juga akan mengakibatkan kerentanan terhadap ketahanan pulaupulau yang ada dalam kawasan akibat tidak adanya penahan gelombang alami sebagaimana fungsi ekologi terumbu karang. b) Selain terhadap ekosistem terumbu karang, ancaman lainya juga dihadapi terhadap keberadaan ekosistem mangrove yang berkurang akibat pembabatan terutama dijadikan sebagai lahan tambak dan alih fungsilainnya. Kondisi tersebut apabila terjadi terus menerus akan berdampak pada hilangnya habitat biota tertentu yang mengamcam keberlanjutan sumber daya perikanan. c) Salah satu potensi sumber daya perikanan di Sulawesi Tengah adalah sidat. Sidat poso memiliki nilai ekonomi tinggi karena kandungan protein yang membuat negara-negara tertentu berani membayar mahal hingga Rp. 300.000,- per kg. Sebagaimana kita ketahui sidat memijah dilaut dan benih (glass eel) menempati muara-muara sungai poso kemudian kemungkinan kembali ke Danau Poso. Menjadi permasalahan benih sidat poso banyak diambil untuk diperjual belikan ke beberapa daerah untuk dibesarkan dan diekspor. Penangkapan berlebih dan kerusakan lingkungan mengancam keberadaan jenis sidat poso di masa depan

    3. Berdasarkan hasil survei lapangan dan pengumpulan informasi melalui konsultasi publik di Kabupaten Morowali Utara dan Menui Kepulauan diketahui beberapa permasalahan yang terjadi di dalam kawasan. Permasalahan tersebut adalah sebagai berikut: a) Eksploitasi penyu dan telur penyu di pulau-pulau kecil Kecamatan Menui Kepulauan b) Aktifitas perikanan yang merusak (destructive fishing) c) Pencemaran perairan dan limbah industry di pesisir Kabupaten Morowali dan Morowali Utara d) Konflik wilayah penangkapan ikan e) Konflik Kepentingan Kepemilikan lahan di Pulau-Pulau Kecil Yang tak Berpenghuni f) Sarana dan prasarana yang masih minim g) Lemahnya pengawasan dan penegakan hukum h) Lemahnya kelembagaan masyarakat i) Rendahnya pemahaman terkait pentingnya Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

    4. Permasalahan sumberdaya hayati yang ada di Kabupaten Banggai, Kabupaten Banggai Kepulauan, dan Kabupaten Banggai Laut di Provinsi Sulawesi Tengah umumnya sama dengan permasalahan sumberdaya hayati yang ada di wilayah pesisir Indonesia yakni masih maraknya kegiatan ilegal dan destruktif di kawasan pesisir dan laut. Kegiatan tersebut cukup beragam, mencakup semua komponen IUUF (illegal, unregulated and unreported fishing). Kerusakan habitat seperti terumbu karang dan lamun di Kawasan Banggai Dalaka secara tidak langsung akan berdampak pada populasi dan stok jumlah ikan ekonomis penting di Kawasan Banggai Dalaka, salah satunya adalah ikan endemik yang ada di Kawasan ini yakni Pterapogon kauderni (Banggai cardinalfish). Selain itu, penangkapan jenis ikan ini secara aktif juga akan mempengaruhi penurunan terhadap jumlah atau populasinya. Ditinjau dari aspek pengelolaan, keberadaan Pterapogon kauderni sangat ditentukan oleh pengelolaan ekosistemnya. Kurangnya pengetahuan/ pemahaman masyarakat di wilayah pesisir perairan Kawasan Banggai Dalaka mengenai banggai cardinafish sebagai ikan endemik membuat masyarakat di kawasan ini melakukan penangkapan banggai cardinalfish secara berlebihan untuk selanjutnya dijual.